Tantangan Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0

Konsep Revolusi Industri 4.0 pertama kali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Messe di kota Hannover, Jerman di tahun 2011 dan merupakan salah satu pelaksanaan proyeksi teknologi modern Jerman 2020 yang diimplementasikan melalui peningkatan teknologi manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan srategis, dan lain sebagainya. Ditandai dengan kehadiran robot, artificial intelligence, machine learning, biotechnology, blockchain, internet of things (IoT),serta driverless vehicle. Bidang pendidikan sangat berkaitan dengan Revolusi Industri 4.0 yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pola belajar dan pola berpikir serta mengembangkan inovasi kreatif dan inovatif dari peserta didik, guna mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan mampu bersaing.

Ahli teori pendidikan sering menyebut Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 untuk menggambarkan berbagai cara mengintegritaskan teknologi cyber baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran. Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut mampu membuka jendela dunia melalui genggaman contohnya memanfaatkan internet of things (IOT). Semua komputer tersambung ke sebuah jaringan bersama. Komputer juga semakin kecil sehingga bisa menjadi sebesar kepalan tangan kita, kita mengenalnya sebagai smartphone. Di sisi lain pengajar juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran.

Pendidikan Islam Era Revolusi Industri 4.0

Rasulullah -Shallallahu álaihi wassallam- pernah bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Apakah kaitan hadist diatas dengan Revolusi Industri 4.0..? Pendidikan, di dalam Islam sejatinya merupakan hal yang sangat penting, terlebih pendidikan anak, sehingga bila berbicara tentang pendidikan anak, tidak boleh sembarangan, kita harus benar benar serius melakukan sebuah upaya agar anak-anak muslim dididik sebaik-baiknya dengan menjadikan Rasulullah -Shallallahu álaihi wassallam- dan para sahabatnya sebagai Role Model bagi anak-anak kaum muslimin, karena sebaik-baik Pendidik dan muridnya serta Konsep Pendidikannya adalah Konsep Rasulullah -Shallallahu álaihi wassallam- dan para sahabatnya, karena mereka dibimbing langsung oleh Wahyu Sang Penguasa Alam Semesta.

Sejatinya keberhasilan pendidikan anak tidak dilihat hanya berdasarkan karir dan pekerjaannya ketika kelak ia dewasa, namun apakah kelak di akherat, pendidikan yang diberikan kepada si anak mampu menyelamatkannya dari siksa neraka dan memasukkannya kedalam surga Allah -Subhanahu wa Taáala-. Dari perspektif ini, sepertinya ada hal yang bertabrakan dengan konsep revolusi Industri 4.0. Namun, bila kita menelaah sebuah hadist lagi dari baginda Rasulullah Muhammad -Shallallahu álaihi wassallam- kita akan mampu menemukan benang merahnya.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, no. 2363)

Rasulullah Muhammad -Shallallahu álaihi wassallam- berkata, bahwa kita lebih mengetahui dunia kita, hal ini menunjukkan terbuka ruang eksloprasi yang besar bagi para orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya kelak , mereka akan menjadi apa, silahkan memilih profesi apapun sesuai bakat dan minat masing-masing, namun pastikan, bahwa seluruh pilihan yang mereka ambil kelak harus berdasarkan bimbingan Al Qurán dan Sunnah. Sehingga kelak, kita akan menemukan Dokter yang hafal Al Qurán, Insinyur yang hafal Matan Tuthfatul Áthfal atau Pengusaha yang memiliki Sanad Qiroáh.

Revolusi Industri 4.0 yang bermuara pada kemudahan manusia dalam saling bekerja sama- via smart phone- bisa dimanfaatkan sebagai sarana mempermudah manusia dalam mencari ilmu, cukup di genggaman, kita bisa mengikuti berbagai macam majelis ilmu, kita dapat mengikuti berbagai webinar, bahkan dauroh-dauroh digital bersanad mulai marak diselenggarakan. Terlebih, di tengah situasi Pandemi Covid-19, yang memaksa manusia mengurangi tingkat interaksinya secara langsung, jargon Revolusi Industri 4.0 semakin menemui maksud dan tujuannya.

Akhirnya, keterbatasan dan keterpaksaan yang kita alami saat ini, mungkin menjadi jalan bagi manusia untuk bisa segera beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0. Sambil berharap, penyesuaian-penyesuaian yang kini dilakukan, terlebih didalam dunia pendidikan, tidak menjadikan mutu dan pencapaian keilmuan kita menurun namun menjadi penyebab bertambahnya skill dan keterampilan yang bisa dimanfaatkan demi kebaikan di dunia saat ini dan kelak di akherat. Tak lupa kita berdoa dan berharap, semoga keadaan segera normal kembali, sehingga, kita dapat segera memperoleh kembali salah satu pilar keilmuan, adab dan keteladanan, yang tak bisa diperoleh melalui –Zoom Meeting– namun harus dengan berinteraksi. Aamiin. [ABH]